Vrydag, 26 April 2013

budaya urang belitong

Bangka Belitung provinsi di Indonesia ini termasuk karena keindahan panorama pantainya. Puluhan pantai dengan hiasan batu granit super besar menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata Bangka Belitung. Lebih-lebih setelah pulau Bangka dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel yang sama karya Andrea Hirata, pulau ini semakin dikenal banyak orang.

pic art 32.jpg

Khalayak sudah pasti tahu akan keindahan alam Bangka Belitung ini. Namun tak banyak yang tahu mengenai adat istiadat masyarakat Bangka Belitung. Di dalam perkembangannya adat istiadat Bangka Belitung tak bisa dilepaskan dari pengaruh dominasi Islam. Perubahan kebudayaan mulai terjadi di masyarakat Bangka ketika Belanda dan China mulai mengexploitasi timah di Bangka. Akulturasi dan inkulturasi budaya ini terlihat dalam pakaian pengantin adat yang diwarnai nuansa budaya China khususnya pada warna dan mahkota yang dikenakan pengantin perempuan. Tak hanya itu beberapa akulturasi juga terjadi pada kesenian-keseniannya.
Rasanya segala yang disuguhkan di Bangka selalu indah dan menarik untuk dinikmati. Tak terkecuali adat istiadanya yang kaya dan beragam. Masyarakat Bangka yang dinekal ramah dan terbuka ini mempunyai adat istiadat yang unik. Beberapa adat istiadat Bangka yang unik dapat dipaparkan seperti di bawah ini.

  1. Mandi Belimau
Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, umumnya tiap-tiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda. Ketika bulan Ramaadhan tiba, masyarakat Bangka menggelar ritual adat mandi belimau. Upacara mandi belimau ini merupakan tradisi yang ada di dusun Limbung desa Jada Bahri dan desa Kimak, kecamatan Merawang, kabupaten Bangka. Tradisi turun temurun ini dilakukan seminggu sebelum datangnya bulan Ramadhan. Upacara diawali dengan menzirahi makam Depati Bunter leluhur masyarakat Bangka. Seleps dari makam Depati Bunter, semua yang ikut kegiatan ini menuju desa Jada Bahrin untuk melakukan ritual mandi belimau. Dalam ritual ini masyarakat sebelumnya dianjurkan untuk berdoa sesuai keinginannya, Masyarakat Bangka mempercayai apabila mengukuti ritual ini sesuai tatacara maka semua doanya akan terkabul.    

pic art 32c.jpg
  1. Kawen haderek
Kawen haderek atau nikah masal adalah tradisi budaya Bangka yang sarat nilai sejarah. Seperti namanya, kegiatan ini melibatkan banyak pasangan calon pengantin dalam prosesinya. Waktu pelaksanaan nikah masal ini biasanya setelah hari raya Idul Adha. Banyak pasangan calon pengantin yang sengaja menanti datangnya waktu pelaksanaan tradisi ini agar nikah masal ini lebih meriah. Sebagai wujud pelestarian terhadap adat dan budaya setempat, Dsiparbudpora Kabupaten Bangka Selatan ini telah menjadikan budaya nikah masal ini sebagai agenda tahunan pariwisata. Sehingga jika anda ingin menyaksikan prosesi adat ini silahkan datang ke Bangka setelah hari raya Idul Adha.
  1. Sepidu sedulang
Sepindu sedulang dalam bahasa Bangka bermakna adanya persautan dan kesatuan, atau dalam masyarakat Jawa dinamakan gotong royong. Adat sepidu sedulang ini merupakan kegiatan yang dilakukan penduduk Bangka pada waktu diadakan pesta kampung. Mereka yang datang membawa dulang (wadah) yang berisi makanan untuk dihidangkan kepada tamu yang datang di balai adat. Kegiatan ini menjadi cerminan bahwa masyarakat Bangka mempunyai rasa toleransi dan rasa persaudaraan yang kuat. Biasaya kegiatan sepindu sedulang ini dilakukan ketika ada acara-acara adat, peringatan hari besar keagamaan, perkawinan, kematian, maupun pada saat panen lada yang merupakan komoditi utama masyarakat Bangka selain tambang timahnya.
  1. Nuju jerami

pic art 32b.jpg

Tradisi nuju jerami merupakan prosesi adat yang dilaksanakan bertepatan dengan masa panen padi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur masyarakat Bangka kepada Tuhan atas melimpahnya panen padi dan juga sebagai permohonan untuk kelimpahan hasil pada masa datang. Namun sayangnya tradisi adat ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Bangka, hanya dusun Air Abik, desa Gunung Muda, Belinyu saja yang masih melaksanakan tradisi ini. Masyarakat di desa tersebut masih melestarikan dan melanjutkan kebiasaan menanam padi. Hal yang menarik dari tradisi ini nampak pada suasana desa yang ramai seperti suasana lebaran. Masyarakat saling bersilaturahim dan saling berkunjung ke handaitaulan maupung tetangga. Disamping itu, setiap rumah di desa tersebut juga menyediakan jamuan untuk menghargai dan menyambut tamu yang datang. Sungguh seperti suasana lebaran.
 Selain contoh di atas masih banyak lagi adat istiadat Bangka yang layak untuk dilestarikan dan difasilitasi agar kekayaan budaya bangsa ini tidak hilang. Hal ini akan menambah keindahan Bangka yang terkenal dengan pesona wisata baharinya. Semoga adat istiadat Bangka akan selalu lestari dan indah selayaknya keindahan pantainya

0 opmerkings:

Plaas 'n opmerking

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More